Sampai kapan sisa HOT Task dibiarkan membusuk di OSM?
English translation below
Halo rekan-rekan komunitas OpenStreetMap, terutama komunitas Indonesia,
Saya ingin membuka ruang diskusi mengenai kualitas data bangunan hasil dari HOT Tasking Manager di Indonesia. Berikut adalah poin pemantik yang sebelumnya juga sempat saya sampaikan di grup Telegram komunitas:
Jujur, saya kurang suka konsep Hot Task yang fokusnya hanya “bikin data” tanpa diimbangi validator. Apalagi kalau pemetaannya terbuka untuk siapa saja, kualitas data seharusnya tetap diperhatikan. Tidak semua kontributor punya kemampuan yang sama, sementara mapper yang sudah berpengalaman juga belum tentu mau berkutat di Hot Task. Akibatnya, sampai sekarang masih bisa ditemukan artefak atau bangunan dengan geometri buruk yang merupakan hasil Hot Task.
Kalau memang tidak ada mekanisme QA yang jelas, menurut saya lebih baik menggunakan atau menunggu data resmi dari pemerintah seperti BIG atau BNPB ketika tersedia, atau ada pemetaan secara internal dari berbagai organisasi relawan yang memang memiliki proses QA sendiri. Terlebih lagi, Hot Task tetap merupakan bentuk organised editing dan tidak lepas dari Organised Editing Guidelines (disetujui pada 2018), yang salah satunya secara jelas menyebutkan perlunya rencana post-event clean up untuk memvalidasi hasil edit, terutama jika melibatkan kontributor baru. Bahkan, edit yang bermasalah dapat dipulihkan, dan masalah yang berat atau berulang dapat berujung pada pelarangan individu maupun organisasi untuk melakukan editing.
Sayangnya, diskusi pemantik ini di grup Telegram terkesan berjalan cukup alot karena respons yang masuk sebagian besar hanya dari Pak Benny. Oleh karena itu, saya membawa isu ini ke forum resmi OSM Indonesia agar bisa mendapatkan sudut pandang yang lebih luas dari rekan-rekan anggota komunitas lainnya.
Beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada forum:
-
Bagaimana pandangan rekan-rekan mengenai penanganan data/artefak bangunan hasil HOT Task atau Organised Editing yang tidak sempat tervalidasi setelah tanggap darurat selesai?
-
Apakah usulan pembentukan aksi pembersihan (clean-up drive) khusus untuk merapikan geometri bangunan buruk hasil tasking lama di Indonesia dinilai perlu?
-
Langkah seperti apa yang ideal agar tasking-tasking mendatang tetap menjaga kualitas data tanpa mengorbankan kecepatan pemetaan darurat?
Transkrip percakapan lengkap dari Telegram mengenai isu ini juga telah saya sertakan pada balasan di bawah sebagai bahan dokumentasi
English
Hello fellow OpenStreetMap community members, especially the Indonesian community,
I would like to open a space for discussion regarding the quality of building data resulting from HOT Tasking Manager projects in Indonesia. Below is the initial prompt that I previously shared in the community’s Telegram group:
To be honest, I am not a fan of the HOT Task concept when it focuses solely on “data creation” without being balanced by validators. Especially given its open-entry nature, data quality should still be taken into account. Mapping skills naturally vary across contributors, while experienced mappers might not always choose to participate in HOT Tasks. As a result, artifacts or buildings with poor geometry resulting from HOT Tasks can still be found to this day.
Without a clear QA mechanism, it might be more effective to rely on official government datasets from agencies like BIG or BNPB when available, or leaning on internal mapping efforts by organizations with dedicated QA teams. Furthermore, HOT Tasks are still a form of organized editing and fall under the Organised Editing Guidelines (approved per in 2018), which clearly mention the need for a post-event clean-up plan to validate edits, especially when involving new contributors. In fact, problematic edits can be reverted, and severe or repeated issues can lead to bans for individuals or organizations from editing.
Unfortunately, the discussion around this prompt in the Telegram group felt rather stagnant, as the responses mostly came only from Benny. Therefore, I am bringing this issue to the OSM forum to gather broader perspectives from other community members.
A few questions I would like to ask the forum:
-
What are your thoughts on handling building data/artifacts from HOT Tasks or Organised Editing that were not validated after the emergency response concluded?
-
Do you think proposing a dedicated clean-up drive to refine poor building geometry from past taskings in Indonesia is necessary?
-
What would be the ideal approach for future taskings to maintain data quality without compromising emergency mapping speed?
I have also included the full transcript of the Telegram conversation regarding this issue in the reply below for documentation purposes.





